SD Lazuardi Tursina Banyuwangi menerapkan paradigma multiple intelligences yang dikembangkan profesor pendidik dari Harvard University Amerika Serikat Howard Gardner yang meyakini bahwa setiap anak mempunyai bakat dan kecerdasannya masing-masing. Paradigma ini meyakini adanya kecerdasan yang bersifat majemuk, yaitu sedikitnya 9 jenis kecerdasan, seperti kecerdasan bahasa, kecerdasan logika, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpesonal, kecerdasan musikal, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan moral, dan kecerdasan naturalis.

 

image-konten-5Semua kecerdasan itu memiliki nilai yang sama dan tidak lebih tinggi satu sama lain. Setiap anak pasti memiliki kecerdasan khas yang menonjol. Dalam hal ini, SD Lazuardi Tursina Banyuwangi mendampingi untuk mengoptimalkan kecerdasan anak tersebut demi keberhasilan hidupnya.

SD Lazuardi Tursina menerapkan sepenuhnya konsep multiple intelligences tersebut, sehingga tidak ada sistem ranking kelas. Siswa akan dibimbing untuk self exploring sehingga perkembangan siswa akan sesuai dengan minat dan karakteristiknya.

 

Dalam upaya mengoptimalkan kecerdasan anak tersebut melalui proses belajar mengajar, SD Lazuardi Tursina menggunakan pendekatan active learning yang secara bertahap akan mengarah pada project and problem based learning. Pembelajaran dilakukan dengan multimetode, seperti ceramah, diskusi, role play, beragam permainan, simulasi, aktivitas luar ruang, dan berbagai model pembelajaran kreatif.

 

SD Lazuardi Tursina Banyuwangi juga menerapkan Authentic Assessment untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Sistem ini menekankan pada proses ketimbang angka kuantitatif yang diperoleh lewat teknik assessment yang lebih berorientasi pada cara-cara penilaian di dunia nyata dan berbasis portafolio (kumpulan karya dan prestasi siswa sepanjang masa belajar) ketimbang standardized test (tes yang seragam).